Bingky Irawan, Tokoh Khonghucu yang Dekat dengan Gus Dur

  • Bagikan
Almarhum Bingky Irawan alias Poo Sun Bing ( Dok. Liem Tiong Yang)
Almarhum Bingky Irawan alias Poo Sun Bing ( Dok. Liem Tiong Yang)

TERASJATIM.ID, Surabaya —  Bingky Irawan, salah satu tokoh Khonghucu yang berdomisili di Jawa Timur meninggal dunia. Bingky mengembuskan naas yang terakhir di RS Delta Surya, Senin (31/05/2021) pada pukul 03.00 WIB.

Bingky Irawan dikenal dekat dengan tokoh Nahdlatul Ulama yang juga mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Bingky tutup usia pada umur 71 tahun. Mendiang Bingky merupakan sosok yang santun dan murah senyum. Binky disemayamkan di Adi Jasa, dan akan dimakamkan pada hari Jumat (4/6/2021) di Sentong, Malang.

Bingky Irawan yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 7 Februari 1952 ini dikenal sebagai pejuang emansipasi umat Konghucu. Bingky saat ini adalah anggota presidium Matakin. Matakin singkatan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk agama Islam. Dia dikenal sebagai tokoh pejuang emansipasi penganut a jaran Konghucu di Indonesia.

Organisasi Matakin mengurus berbagai hal seputar Konghucu dari Sabang sampai Merauke, mulai dari soal ritual, rumah ibadah (kelenteng), hingga hubungan antaragama dan pemerintah. Menurut sahabatnya Liem Tiong Yang, Bingky juga tercatat pernah menjadi ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Jawa Timur dan mantan pengurus Kelenteng Boen Bio di Jl Kapasan Surabaya.

Bingky dikenal ramah dan suka bergaul. Tokoh Khonghucu ini dikenal sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia sekaligus kiai senior Nahdlatul Ulama. Bingky konsisten memperjuangkan hak-hak sipil umat Konghucu dan warga Tionghoa umumnya. Pada era Orde Baru, warga keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami diskriminasi hampir di segala bidang. Ekspresi budaya Tionghoa dilarang keras.

Baca Juga:   Masyarakat di Wilayah Aglomerasi Juga Dilarang Mudik, Ini Penjelasannya

Ganti Nama dan Ganti Agama

Rezim Orde Baru hanya membakukan lima agama (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha) sebagai agama resmi.Di luar lima itu dianggap bukan agama, termasuk Konghucu.Para penganut ajaran Konghucu ini juga diawasi secara ketat, termasuk ketika beribadah di kelenteng masing-masing.

Situasi berubah saat menjadi Presiden Indonesia, Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Keppres ini mengatur antara lain penyelengaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Pada tahun 2001 Gus Dur kembali membuat gebrakan dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Gus Dur sendiri hadir dalam perayaan Imlek tingkat nasional di Jakarta.

Kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid kemudian diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri, penggantinya. Presiden Megawati menetapkan Tahun Baru Imlek alias Sin Cia sebagai hari libur nasional. Mulai saat itu, ekspresi budaya, agama, seni, bahasa, dan segala sesuatu yang berbau Tionghoa pun bisa dinikmati di tanah air.

Dikutip dari laman wikipedia , menjelang kejatuhan Orde Baru Bingky Irawan bersama umat Konghucu menghadapi masalah serius menyangkut hak-hak sipil. Ada sepasang pengantin beragama Konghucu, Budi Wijaya dan Lanny Guito, menghadapi masalah besar saat hendak mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil Surabaya. Pegawai Catatan Sipil menolak karena agama Konghucu tidak diakui di Indonesia. Seperti diketahui, pada waktu itu pemerintah hanya mengakui lima ‘agama resmi’.

Baca Juga:   Polda Jatim Sediakan 4.700 Dosis Vaksin untuk Kalangan Warga Disabilitas

Budi-Lanny pun diminta untuk memilih salah satu dari lima agama itu agar pernikahannya bisa dicatat dan diakui negara. Praktik ini sudah dianggap ‘lazim’ selama Orde Baru.

Hampir semua umat Konghucu terpaksa main sandiwara dengan ‘mengganti’ agamanya di depan pejabat Catatan Sipil hanya untuk melegalisasi pernikahannya. Begitu pula untuk beroleh selembar kartu tanda penduduk (KTP) atau surat-surat lain yang punya kolom agama.

Budi dan Lanny yang baru saja melangsungkan pernikahan di kelenteng Konghuchu menolak kebijakan Catatan Sipil (Dinas Kependudukan) yang diskriminatif itu.

Keduanya nekat mengajukan gugatan resmi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Disebut ‘nekat’ karena sebelumnya tidak ada orang Konghucu atau penganut agama/kepercayaan di luar lima agama resmi yang berani mempertanyakan kebijakan pemerintah di bidang administrasi kependudukan.

Bingky Irawan sebagai pemuka Konghucu, harus mengawal dan mendampingi kedua jemaatnya yang masih muda itu. Bingky menekankan permintaan agar pernikahan umat Konghucu dicatat seperti juga umat yang beragama lain. Sidang kasus Budi-Lanny ini mendapat sorotan luas dari media massa.

Polemik, perbedaan pendapat, muncul dari berbagai tokoh. Sebagian besar pembicara menganggap tepat kebijakan Catatan Sipil yang menolak mengakui pernikahan Budi-Lanny. Polemik kemudian melebar seputar layak tidaknya Konghuchu disebut agama.

Baca Juga:   Covid-19, Jatim Diminta Tingkatkan Pemeriksaan di Pintu Masuk Bandara

Saat itulah Gus Dur muncul dengan pembelaannya yang terbuka terhadap umat Konghucu, khususnya Budi dan Lanny. Tak hanya itu, Gus Dur menyatakan siap menjadi saksi ahli di PTUN untuk membela Budi dan Lanny.

Tawaran Gus Dur ini jelas tak disia-siakan oleh Bingky Irawan dan para aktivis Konghucu di Jawa Timur. Ketika saatnya tiba, Gus Dur akhirnya benar-benar tampil sebagai saksi ahli di pengadilan.

Muatan politik sidang warga negara biasa ini pun menjadi sangat tinggi karena media massa memberitakan kasus ini secara luas. Dari kejadian inilah maka Bingky menjadi dekat dengan Gus Dur.

Biodata :

Nama: Bingky Irawan alias Poo Sun Bing
Tempat/tanggal lahir: Surabaya, 7 Februari 1952
Istri: Susilowati
Anak: Puspita Sari, Agus Purwanto, Agus Cahyono, Agus Kurniawan
Alamat: Jl Raya Sepanjang, Taman, Sidoarjo
Pekerjaan: Pengusaha, Agamawan Konghucu
Pendidikan :
SD Tionghoa di Praban, Surabaya
Sekolah Seni Lukis, Surabaya
Sekolah Teologi Konghucu, Jl Kapasan, Surabaya

Karier/Aktivitas:
1986-1991: Wakil Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
1991-2006: Ketua Pengurus Kelenteng Boen Bio, Surabaya.
1991-2006: Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Jawa Timur.
2006-sekarang: Anggota Presidium Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Jakarta.
1991- sekarang: Forum Lintas Agama di Surabaya, Jawa Timur.

  • Bagikan